Upacara Slametan Orang Meninggal Masyarakat Jawa

Standar

1. Contoh kasus : Upacara slametan orang meninggal masyarakat Jawa yaitu dengan melakukan doa bersama .  Biasanya dilakukan slametan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun pertama, tahun kedua, dan 1000 hari . Slametan tersebut dilakukan dengan cara mengadakan tahlilan di rumah dengan mengundang kerabat dan tetangga dan beberapa ritual lainnya. Makanan untuk upacara slametan tersebut juga berbeda – beda dan sudah ditentukan sebelumnya. Sedangkan pada masyarakat Depok masih ada yang melakukan upacara slametan untuk orang yang meninggal tetapi porses dan upacaranya sedikit berbeda dibandingkan masyarak asli jawa . Upacara yang dilakukan umumnya lebih sederhana dengan mengadakan tahlilan dan doa bersama saja, makanan yang disajikan juga sederhana. Contohnya pada keluarga saya, meskipun saya adalah orang asli jawa tetapi karena sudah lama bermukim di Depok maka saat melakukan slametan, keluarga saya hanya melakukan upacara 3 hari, 7 hari , 14 hari, 40 hari dan 100 hari.

2. Teori : Upacara slametan merupakan salah satu budaya Jawa untuk menghormati orang yang telah meninggal.  Masyarakat Jawa meyakini bahwa arwah orang yang telah meninggal masih berada di sekeliling keluarganya maka dari itu jika ada orang yang meninggal maka mereka akan mengadakan slametan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal tersebut.

3. Analisis : Berdasarkan contoh kasus diatas dapat dikatakan bahwa upacara slametan khususnya slametan orang meninggal sudah mengalami perubahan dan perkembangan. Hal ini disebabkan adanya perubahan pola pikir dari masyarakat , dengan berubahnya pola pikir serta perkembangan zaman maka berubah juga kebiasaan yang diyakini. Kebiasaan yang berubah tetapi tidak menghilangkan makna atau arti dari kebiasaan tersebut, seperti kasus diatas saya sebagai orang Jawa yang bermukim di Depok masih melakukan upacara slametan bagi orang yang meninggal , caranya sama hanya beberapa proses upacaranya yang berbeda tetapi tetap pada aturan yang ada . Menurut saya perubahan sah saja terjadi asalkan tidak menghilangkan makna yang terkandung didalamnya. Dengan masih melakukan kebiasaan tersebut secara benar dan dengan aturan yang sesuai dengan adat Jawa itu sudah menandakan bahwa kita masih menghargai dan mau menjaga kebiasaan adat dari leluhur kita tanpa menghilangkan ketradisionalan didalamnya.

4. Refrensi : Penulisan ini berdasarkan dari keterangan orang tua saya sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s